Tahun 2015 menjadi awal perjalanan setelah menikah. Saat itu, kami mencoba mandiri dengan menumpang tinggal di rumah orang. Namun kondisi tidak mudah—lingkungannya kurang nyaman, ada berbagai persoalan, dan rumah tersebut sebenarnya sudah tua, ventilasinya kurang sehat, bahkan sebagian digunakan sebagai gudang. Meski begitu, kami tetap bertahan hampir satu tahun. Sampai akhirnya saya sempat terkena DBD, ditambah situasi yang semakin tidak kondusif dengan pemilik rumah. Dari situ muncul tekad untuk benar-benar memiliki tempat tinggal sendiri. Awal 2016, kami memberanikan diri meminta bantuan orang tua untuk membangun rumah. Alhamdulillah, sudah ada tanah warisan meski tidak luas—cukup untuk membangun rumah sederhana. Pembangunan dimulai pada Maret 2016. Dengan segala keterbatasan, proses berjalan perlahan. Hingga akhirnya, di bulan Juni 2016, rumah tersebut sudah bisa ditempati—tepat H-2 sebelum Lebaran. Momen itu menjadi salah satu titik paling berkesan dalam hidup. Dalam pros...
Bapak saya, alm. Sulaiman Saman, bukan berasal dari keluarga berada, melainkan dari ekonomi sederhana. Di masa awal, beliau belum memiliki kendaraan sendiri. Untuk bekerja, beliau menyewa motor dan menyetor kepada pemiliknya setiap hari. Namun dari situlah muncul tekad. Beliau mulai berpikir, “kalau terus begini, kapan punya sendiri?” Hingga akhirnya, dengan usaha dan keberanian, beliau berhasil membeli motor pertamanya: Honda Bravo warna biru. Seiring waktu berjalan, kebutuhan dan kondisi berubah. Anak-anak mulai beranjak dewasa, penggunaan motor mulai berkurang, dan tuntutan zaman juga ikut berubah. Bapak kemudian mengganti motornya ke Suzuki GX New. Namun perjalanan tidak selalu mulus—pernah mengalami kendala akibat insiden di jalan, sehingga motor tersebut dirasa kurang nyaman digunakan lagi. Beliau pun beberapa kali berganti motor, bukan karena gaya, tapi karena kebutuhan hidup. Pernah menggunakan Vega R, hingga akhirnya kembali lagi ke Suzuki GX yang menjadi motor terakh...