Tahun 2015 menjadi awal perjalanan setelah menikah. Saat itu, kami mencoba mandiri dengan menumpang tinggal di rumah orang. Namun kondisi tidak mudah—lingkungannya kurang nyaman, ada berbagai persoalan, dan rumah tersebut sebenarnya sudah tua, ventilasinya kurang sehat, bahkan sebagian digunakan sebagai gudang.
Meski begitu, kami tetap bertahan hampir satu tahun. Sampai akhirnya saya sempat terkena DBD, ditambah situasi yang semakin tidak kondusif dengan pemilik rumah. Dari situ muncul tekad untuk benar-benar memiliki tempat tinggal sendiri.
Awal 2016, kami memberanikan diri meminta bantuan orang tua untuk membangun rumah. Alhamdulillah, sudah ada tanah warisan meski tidak luas—cukup untuk membangun rumah sederhana.
Pembangunan dimulai pada Maret 2016. Dengan segala keterbatasan, proses berjalan perlahan. Hingga akhirnya, di bulan Juni 2016, rumah tersebut sudah bisa ditempati—tepat H-2 sebelum Lebaran. Momen itu menjadi salah satu titik paling berkesan dalam hidup.
Dalam prosesnya, ada juga kebaikan orang-orang sekitar. Seorang kawan, Zailani, ikut membantu sejak awal pembangunan, termasuk dalam proses penggalian pondasi, hingga membantu saat pindahan.
Dari semua perjalanan ini, saya belajar satu hal: kemandirian itu bukan langsung jadi, tapi dibangun dari keberanian mengambil langkah, meski dalam kondisi terbatas.
Komentar
Posting Komentar