Saya lahir di era 90-an, generasi yang tumbuh tanpa gadget, bermain bebas di luar rumah, menikmati masa kecil dengan sederhana. Saya besar di lingkungan kampung, dari keluarga petani dengan penghasilan pas-pasan. Orang tua saya hanya lulusan SD dan menikah di usia muda, namun mereka punya satu harapan besar: anak-anaknya harus sekolah lebih tinggi.
Kami empat bersaudara, semuanya laki-laki. Uniknya, meski lingkungan tidak jauh dari kebiasaan merokok, kami justru tidak ada yang merokok. Sejak kecil, saya juga tidak terlalu dekat dengan agama—ngaji pun sering terasa sulit dipahami.
Masa sekolah saya berjalan biasa saja. Lulus SD tahun 2004, SMP 2008, dan SMA 2010. Saat itu, saya lebih banyak mengenal dunia hiburan seperti PS1 dan Nintendo dibandingkan arah hidup yang jelas.
Tahun 2010 menjadi titik berat dalam hidup saya. Ayah saya meninggal karena kecelakaan sepulang memancing. Kejadian itu mengubah segalanya. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, saya tetap melanjutkan kuliah dengan bantuan kakak-kakak saya. Bahkan sebelumnya, ayah saya sampai menjual sebagian tanah demi pendidikan anak-anaknya.
Perjuangan hidup terus berjalan. Tahun 2014–2017, saya mengajar ngaji dengan penghasilan hanya sekitar 600 ribu rupiah per bulan—dan itu pun masih saya tabung. Di tengah keterbatasan itu, tahun 2015 saya memberanikan diri menikah, meski penghasilan belum mapan. Saya mencoba berbagai hal: mengajar kursus komputer, hingga terjun ke dunia trading. Namun perjalanan di dunia online tidak selalu mulus—banyak kerugian, penipuan, dan kegagalan yang harus saya hadapi.
Selama 10 tahun terakhir, total kerugian yang saya alami hampir mencapai 50 juta rupiah—jumlah yang sangat besar bagi saya.
Saya sadar, salah satu tantangan terbesar saya bukan hanya soal uang, tapi juga diri sendiri. Saya cenderung berada di zona nyaman, sulit mengambil langkah besar, sering overthinking terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Saya juga merasa kurang tegas, pendiam, dan kurang dalam komunikasi.
Kini, di usia 30-an, saya mulai merenung. Semua perjalanan, kesulitan, dan kegagalan itu bukan sekadar cerita, tapi seharusnya menjadi titik balik. Saya tidak ingin terus berada di pola yang sama.
Saya ingin berubah.
Menjadi lebih tegas.
Lebih berani mengambil keputusan.
Lebih bijak dalam keuangan.
Dan lebih siap menghadapi hidup ke depan.
Karena saya sadar…
masa lalu memang berat, tapi masa depan masih bisa diperbaiki.
Komentar
Posting Komentar