Awal Kehidupan (1992 – 2004)
Saya lahir pada tahun 1992 di sebuah desa kecil di Kalianda. Saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara, semuanya laki-laki. Kakak pertama lahir tahun 1986, kakak kedua 1988, dan adik bungsu 1995.
Masa kecil saya sederhana, bahkan bisa dibilang jauh dari kemewahan. Kehidupan keluarga bergantung pada hasil alam dari kebun kecil. Kami tumbuh dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah, namun penuh dengan nilai perjuangan.
Ibu saya setiap hari bangun sekitar pukul 3–4 subuh untuk memasak dengan kayu bakar. Lauk seringkali sederhana—mie instan, ikan, atau telur ceplok yang harus dibagi menjadi empat bagian.
Salah satu cerita paling membekas adalah saat orang tua saya diremehkan ketika membangun rumah sekitar tahun 1993. Banyak yang menganggap hal itu mustahil. Namun ayah saya membuktikan, pada tahun 1995 rumah itu berdiri dan mulai ditempati, walaupun belum sepenuhnya selesai.
Masa Sekolah dan Pembentukan Karakter (2004 – 2010)
Saya lulus SD tahun 2004, SMP 2008, dan SMA 2010.
Masa kecil hingga remaja saya diisi dengan kehidupan sederhana tanpa gadget. Bermain di alam menjadi keseharian—mencari tebu, buah-buahan liar, kelapa, hingga bermain bola di lapangan.
Di SD, saya termasuk siswa berprestasi—hampir selalu berada di peringkat 1 atau 2. Namun di balik itu, saya juga anak yang cengeng karena sering dibully oleh kakak sendiri.
Saat SMP, saya aktif di Pramuka dan sempat meraih lencana tertinggi di tingkat tersebut.
Titik Balik di Masa SMA: Agama dan Jati Diri
Masa SMA menjadi titik balik penting dalam hidup saya, bukan hanya secara fisik melalui pencak silat PSHT (yang saya ikuti hingga resmi menjadi warga di akhir 2010), tetapi juga secara spiritual.
Saya mulai aktif di kegiatan Rohis (Rohani Islam). Dari sinilah perjalanan saya dalam memahami agama benar-benar dimulai.
Yang paling berkesan, sebelum masa SMA—bahkan sejak SD hingga SMP—saya tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Saya kesulitan menyambung bacaan.
Namun di SMA, saya mulai belajar dengan serius. Dari yang awalnya tidak bisa, perlahan mulai memahami, membaca, dan mendalami Al-Qur’an. Ini menjadi salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya.
Tahun 2010 juga menjadi tahun penuh ujian. Ayah saya wafat pada bulan Agustus.
Beliau pergi setelah melihat saya lulus SMA—sebuah amanah yang beliau pegang teguh: semua anak harus minimal lulus SMA.
Masa Transisi dan Awal Perjuangan Mandiri (2010 – 2015)
Setelah lulus SMA, saya melanjutkan kuliah hingga akhirnya wisuda S1 pada tahun 2015.
Di masa ini, saya mulai menemukan arah hidup.
Tahun 2011, saya mulai mengajar kursus komputer secara otodidak. Ketertarikan ini muncul dari melihat kakak kedua yang kuliah D3 komputer di DCC Kalianda.
Sejak saat itu, saya mulai menjalankan:
- kursus komputer rumahan
- jasa pengetikan
- cetak foto
- printing
Usaha ini terus berjalan hingga sekarang.
Selain itu, karena aktif di masjid, saya diminta mengajar ngaji di TPA Al-Ikhlas Kampung Sawah dari tahun 2014 hingga 2017.
Penghasilan saat itu sangat terbatas, sekitar 650 ribu hingga maksimal 700 ribu per bulan. Namun saya tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Tahun 2015, saya menikah. Prosesnya singkat, hanya beberapa bulan kenal. Keputusan ini saya ambil dengan keberanian dan keyakinan.
Mencari Makna Hidup (2017 – 2018)
Tahun 2017, saya mengikuti program hafalan 30 juz di Cipanas, dalam kondisi sudah memiliki anak usia 1 tahun.
Perjalanan ini bisa terjadi berkat bantuan biaya sekitar 5 juta rupiah dari Dokter Eni, yang disampaikan melalui perantara Ustadz Abdurrahman.
Dari perjalanan ini, lahir sebuah cita-cita besar dalam diri saya:
membangun Rumah Qur’an.
Namun hingga saat ini, cita-cita tersebut masih menjadi harapan yang belum terwujud.
Masuk Dunia Kerja dan Sistem Baru (2018 – 2022)
Awal tahun 2018, saya mulai bekerja di pemerintahan desa sebagai Kasi Pemerintahan hingga tahun 2022.
Ini menjadi fase baru dalam hidup—kembali hidup dalam sistem, namun kali ini dalam dunia kerja.
Di sisi lain, saya juga mulai mengenal dunia trading:
- 2015: mulai mengenal binary option
- 2018: mulai belajar forex
Walaupun belum menghasilkan secara konsisten dan bahkan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah, saya tetap memiliki keyakinan bahwa di dalamnya ada peluang.
Perkembangan dan Titik Baru (2021 – Sekarang)
Tahun 2021, saya mulai menggunakan internet, awalnya menumpang dari desa.
Tahun 2022, saya bersama tetangga patungan memasang WiFi sendiri.
Tidak disangka, hal ini justru membuka sumber penghasilan baru, dengan jumlah pelanggan yang kini hampir mencapai 20 orang.
Tahun 2023, saya mulai bekerja sebagai staf IT di SALUT Kalianda (Universitas Terbuka).
Tahun 2025, saya mendapatkan tambahan pekerjaan sebagai Kepala Bagian Sekretariat di kantor hukum Rusman Efendi, SH., MH., dan rekan.
Saat ini, sumber penghasilan saya berasal dari:
- pekerjaan utama
- pekerjaan tambahan
- usaha WiFi
- kursus komputer
Refleksi: Perjalanan yang Terasa Singkat
Jika dilihat sekilas, perjalanan hidup selama 34 tahun ini terasa sangat singkat.
Namun di dalamnya terdapat:
- perjuangan orang tua
- keterbatasan ekonomi
- kehilangan
- perubahan diri
- kegagalan
- dan harapan
Saya menyadari bahwa saya adalah pribadi yang cenderung introvert. Tidak banyak bergaul dengan dunia luar. Bahkan skripsi saya pun lebih banyak meneliti pemikiran daripada turun langsung ke lapangan.
Namun dari semua itu, saya belajar satu hal:
Hidup tidak harus selalu cepat, yang penting terus berjalan.
Penutup: Untuk Anak-Anak di Masa Depan
Jika suatu hari anak-anak saya membaca cerita ini, saya ingin mereka memahami:
Bahwa hidup tidak selalu mudah.
Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Bahwa setiap perjuangan ada hasilnya, walaupun tidak langsung terlihat.
Dan yang paling penting:
Perjuangan orang tua tidak boleh berhenti di satu generasi.
Komentar
Posting Komentar