Bapak saya, alm. Sulaiman Saman, bukan berasal dari keluarga berada, melainkan dari ekonomi sederhana. Di masa awal, beliau belum memiliki kendaraan sendiri. Untuk bekerja, beliau menyewa motor dan menyetor kepada pemiliknya setiap hari.
Namun dari situlah muncul tekad. Beliau mulai berpikir, “kalau terus begini, kapan punya sendiri?” Hingga akhirnya, dengan usaha dan keberanian, beliau berhasil membeli motor pertamanya: Honda Bravo warna biru.
Seiring waktu berjalan, kebutuhan dan kondisi berubah. Anak-anak mulai beranjak dewasa, penggunaan motor mulai berkurang, dan tuntutan zaman juga ikut berubah. Bapak kemudian mengganti motornya ke Suzuki GX New. Namun perjalanan tidak selalu mulus—pernah mengalami kendala akibat insiden di jalan, sehingga motor tersebut dirasa kurang nyaman digunakan lagi.
Beliau pun beberapa kali berganti motor, bukan karena gaya, tapi karena kebutuhan hidup. Pernah menggunakan Vega R, hingga akhirnya kembali lagi ke Suzuki GX yang menjadi motor terakhir beliau.
Bapak dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka memancing. Hingga pada suatu hari, sepulang dari memancing, tepatnya tanggal 9 Agustus 2010, beliau mengalami kecelakaan. Dan keesokan harinya, 10 Agustus 2010, beliau wafat.
Motor terakhir beliau hingga saat ini masih ada—menjadi saksi bisu perjuangan hidup, kerja keras, dan perjalanan seorang ayah yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar