*PENJARA 30 TAHUN TANPA PENGADILAN*
Mungkin kita pernah mengikuti berita tentang proses pengadilan sebuah tindak pidana. Vonis hakim memutuskan penjara puluhan tahun, untuk berbagai macam kesalahan berat seperti korupsi bahkan pembunuhan.
Tetapi yang satu ini berbeda. Tak ada tindak pidana apapun yang ia lakukan, tak ada pengadilan, tanpa vonis hakim, namun ia dipenjara hingga 30 tahun dan masih terus berlanjut sampai hari ini.
Saya mengenalnya sejak muda. Ia seorang lelaki, tenaganya kuat bukan orang yang lemah, akal pikirannya normal bukan orang kurang waras. Namun kebiasaannya bersantai dan bermalas-malasan.
Pada jam-jam di mana semua lelaki sehat dan berakal sedang bekerja mencari rezeki, Anda hanya akan melihatnya di kamar tidurnya sambil berfantasi suatu saat akan menjadi orang sukses.
Seribu alasan sudah ia hafalkan sebagai antisipasi jika ada yang bertanya mengapa dia tak berusaha? Dunia pekerjaan yang kejam, ekonomi sedang lesu, gaji tidak manusiawi, dan sebagainya.
Sebetulnya satu-satunya alasan adalah kemalasannya saja. Seandainya ia mau melangkah keluar dari rumah, niscaya Allah akan menunjukkan jalan rezeki baginya. Namun rasa malas sudah melekat kuat dalam darah dagingnya.
Tanpa disadari bahwa ia sudah dipenjara dalam rumahnya sendiri. Ia tak pergi kemana-mana. Ia terkurung di rumah. Bukankah ini artinya penjara?
Namun bukan penjara atas vonis pengadilan. Tak ada hakim, jaksa, pengacara. Satu-satunya yang ada hanya rasa malas, dan ternyata yang satu ini sudah cukup punya kemampuan memenjarakan seseorang.
Tanpa terasa tiga puluh tahun berlalu, dan orang yang saya kenal sejak muda tersebut kini sudah berusia 50 tahun. Tentu saja masih menjalankan masa "tahanannya" di rumah orang tuanya. Perkenalkan, inilah manusia dewasa berusia 50 tahun yang masih diberi makan oleh orang tuanya.
Rasa malas bukan hanya membuatnya menjadi tahanan rumah, bahkan membuatnya kehilangan rasa malu. Tidak sedikitpun ia malu karena tak punya penghasilan dan masih merepotkan orang tuanya.
Bagaimana jika hal ini terjadi pada diri kita sendiri? Jawabannya cuma satu, lawan! Tak peduli kita sudah satu tahun atau dua tahun dipenjara, lawan!
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا
_"Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!"_ (Surat An-Nisa ayat 71)
Bagaimana jika hal ini terjadi pada orang terdekat di keluarga kita? Dukung dia untuk melawan! Tolong kasihani dia, jangan sampai kemalasannya semakin larut dalam aliran darahnya seperti gula yang larut dalam air. Bantu dia untuk bebas dari penjara!
✏️ _Sahabatmu, Arafat._
Komentar
Posting Komentar