Perjalanan ini dimulai dari langkah kecil di tahun 2014. Saat itu saya mengajar ngaji sambil perlahan belajar mandiri secara finansial. Dari usaha sederhana tersebut, saya bisa menabung hingga memiliki emas sekitar 8 gram, sekaligus mempersiapkan pernikahan di tahun 2015. Di masa yang sama, saya juga mencicil motor sebagai alat penunjang aktivitas.
Memasuki tahun 2016, dengan bantuan orang tua, saya mulai membangun rumah sederhana dengan total biaya sekitar 50 juta. Hingga 2017, kehidupan berjalan dengan penuh perjuangan—mengandalkan hasil kursus komputer dan usaha seadanya untuk mencukupi kebutuhan setelah menikah.
Periode 2018 hingga 2022 menjadi fase lebih stabil. Saya bekerja di pemerintahan desa, sementara istri bekerja di Universitas Terbuka. Dari hasil kerja bersama, kami bisa menambah dapur di tahun 2019, dan di tahun 2021 berhasil membeli mobil tua sebagai aset keluarga dari hasil gabungan penghasilan.
Di fase 2023 hingga 2026, perjalanan kembali mengalami dinamika. Kami memutuskan menjual mobil, lalu fokus memperbaiki rumah dengan menambah teras depan. Di sisi lain, ada aktivitas gadai motor dari orang lain kepada saya sebagai bagian dari pengelolaan keuangan. Namun di fase ini juga ada peningkatan, di mana saya mulai bekerja di Universitas Terbuka dan sejak 2025 juga aktif di kantor hukum.
Kesimpulan sederhana:
Perjalanan ini bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang terus bergerak. Dari ngajar ngaji, kerja serabutan, hingga sekarang memiliki beberapa sumber penghasilan—semuanya adalah proses. Sedikit demi sedikit, yang penting tetap konsisten dan tidak berhenti berusaha.
Komentar
Posting Komentar