*SI MBAK DAN NASI UDUK LARISNYA*
Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Inilah ucapan Ki Hajar Dewantara tentang menjadi pembelajar di manapun kita berada. Cikal bakal istilah baru dalam bahasa sehari-hari yaitu; Sekolah kehidupan.
Karena hidup kita penuh dengan pelajaran. _Everywhere we learn._ Contohnya ketika kemarin saya berburu sarapan pagi. Pilihan saya jatuh kepada nasi uduk Si Mbak. Saya pun segera ke sana dengan sepeda motor. Sudah ada tiga pembeli yang sedang ia layani. Saya segera memesan, "Mbak dibungkus dua ya."
Ia menoleh sebentar kemudian mengangguk. Pesanan saya ini sudah masuk dalam otaknya. Si Mbak ini salah satu pedagang nasi uduk yang punya memori di atas rata-rata. Dia bisa ingat siapa yang datang lebih dulu dan siapa yang datang belakangan.
Dia akan melayani yang datang lebih dulu bahkan dia hafal porsi seperti apa untuk tiap-tiap pelanggannya. Tanpa perlu berkata dengan rinci, dia sudah otomatis menyiapkan untuk saya nasi uduk dengan sambal kacang (bukan sambal goreng) dilengkapi dengan tempe (bukan tahu maupun bakwan).
Sejurus kemudian satu demi satu pembeli lain datang. Mayoritas emak-emak. Mereka langsung berkerubung mengelilingi meja jualan Si Mbak dan saling sahut menyahut menyebutkan pesanannya. Saya tidak heran melihat suasana ramai seperti itu, karena nasi uduk ini memang laris.
Saya hanya heran dengan emak-emak tersebut mengapa harus saling memaksa ingin dilayani lebih dulu. Apa takut kehabisan? Tapi saya lihat dagangannya masih banyak. Apa ingin lebih didahulukan? Tetap saja Si Mbak melayani sesuai urutan kedatangan.
Lagipula jika kita datang belakangan tapi ingin dilayani duluan, artinya kita sudah mengambil hak orang lain yang datang lebih awal. Apalah artinya sebungkus nasi uduk jika didapat dengan merampas hak urutan orang lain.
Benar saja, saya yang menunggu dari atas motor dengan posisi menjauh dari meja jualan, tetap dipanggil juga oleh Si Mbak karena pesanan saya sudah siap. Tak perlu berebut, tak takut kehabisan, percayakan saja kepada Si Mbak karena dia telah mengingatnya dengan baik.
Barangkali hal semacam ini yang bisa disebut Sekolah Kehidupan. Karena dari sini kita belajar simulasi dari rezeki. Bahwa rezeki itu pasti datang jika sudah waktunya. Allah sudah mengatur semua manusia dengan sangat tepat siapa yang diberi lebih dulu dan siapa yang diberi belakangan.
Mengapa harus memaksa kepada Allah ingin diberi lebih dulu. Apa takut kehabisan? Tidakkah kita melihat kekayaan Allah teramat luasnya meliputi langit dan bumi?
Apalagi sampai mengambil hak orang lain demi mendapat lebih banyak. Apalah artinya suatu keuntungan dunia jika didapat dengan merampas hak saudara kita sendiri.
Mengapa pula harus rendah diri melihat mereka yang secara kasat mata diberi rezeki lebih banyak dari kita? Sebenarnya tidak ada banyak atau sedikit, melainkan karena rezeki sudah ditakar porsi seperti apa untuk tiap-tiap mahkluk-Nya.
Saya benar-benar bersyukur memilih sarapan yang tepat pagi itu. Karena dapat nasi yang lezat dan pelajaran yang padat. Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.
✏️ _Sahabatmu, Arafat._
Komentar
Posting Komentar